Hari Rabu kemarin, tepatnya tanggal 22 Oktober 2008, ketiga kalinya Saya dan teman-teman mengikuti kelas “Belajar Dan Pembelajaran” di mesjid kampus, masih sama dengan masalah sebelumnya, kami belum mendapatkan kelas pengganti kelas sebelumnya yang belum selesai direnovasi.
Oke, sekarang kita ke materi yang didiskusikan hari itu, yang menjadi penyaji hari itu adalah kelompok 3 yang membahas “Empat Pilar Pendidikan yang diajukan UNESCO”, ke empat pilar tersebut adalah:
1. Learning to know : Penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya Learning to How
2. Learning to do : Belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerja sama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi.
3. Learning to be : belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.
4. Learning to live together : Belajar memhami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya.
Dengan mengaplikasikan pilar-pilar tersebut, diharapkan pendidikan yang berlangsung di seluruh dunia termasuk Indonesia dapat menjadi lebih baik, namun yang menjadi masalah adalah dunia pendidikan di Indonesia yang saat ini masih minim fasilitas, terlebih lagi di daerah-daerah terpencil, belum meratanya fasilitas pendidikan, tentunya akan menjadi halangan bagi siswa untuk mengembangkan diri mereka, sebagaimana pilar pendidikan pada point pertama di atas, “Learning to know”, bagaimana siswa dapat menambah ilmu sebanyak-banyaknya sedangkan fasilitasnya saja tidak memadai? Bagaimana mereka bisa mencari tambahan referensi ilmu sedangkan semua yang mereka dapat sangat terbatas? Lalu, mengarah ke point kedua, “Learning To Do”, belajar untuk berkarya atau mengaplikasikan ilmu yang didapat oleh siswa, di sini kembali muncul pertanyaan, bagaimana siswa dapat berkarya sedangkan ilmu mereka sangat minim, simpelnya begini, “teorinya aja ngga tau, gimana bisa buat praktekin?”
Dapat kita lihat, pilar-pilar pendidikan tersebut memang dirancang dengan sangat bagus dan dengan tujuan yang sangat bagus pula, namun perlu diingat, masih banyak aspek penghalang dalam pelaksanaan pilar-pilar pendidikan tersebut, sebut saja kurangnya SDM guru yang benar-benar “mumpuni”, perbedaan pola pikir setiap masyarakat atau daerah dalam memandang arti penting pendidikan, kemudian lagi, FASILITAS, fasilitas yang minim entah dananya yang tidak ada atau mampir ke kantong karuptor akan sangat menghambat kemajuan proses belajar mengajar, dan kendala-kendala yang lain.
Satu harapan kita semua, agar dunia pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik, di seluruh Indonesia, tidak terkecuali daerah terpencil.
“Majulah pendidikan Indonesiaku…”
(sebuah uneg-uneg dari Saya)


Amiiin.. Makanya kuliah tuw bujur2 nak lah…..
@ sarah luna
enggeh ma’ae..
pian jua bujur2 mencari duit ma’lah, nyaman ulun kw tuntung kuliah tanpa halangan dana…
Apaaaah??, dasar anak tiri..!!,bukan nya membantu orang tua malah menyusahkan ortu. *muka merah,marah-marah*.. Huahhahhahaha…. ada ja toh.. side job laen, selain siaran. Huhu… Di tunggu ja lah jatah gasan mama…
*melirik dengan wajah licik*. wkkwkwkwk…
@ sarah luna
*ngelirik dompet*
ehhmm… uang saya yg 10rb sapa yang minjam yaaa…???
kakakakakakkkkk….